Loading...

Kamis, 27 Oktober 2011

Tugas kelompok 8

BAYI BARU LAHIR DENGAN MASALAH
“MILIARIASIS”
DISUSUN OLEH :

1.      DIANTI MARLINDA              32010010
2.      DINDA WIJIANTI                   32010011
3.      JUWITA AFRIANA                32010034


AKADEMI KEBIDANAN BHAKTI PUTRA BANGSA PURWOREJO
2011/2012


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT.  Atas rahmat-Nya sehingga kami dapata menyelesaikan makalah BAYI BARU LAHIR DENGAN MASALAH MILIARIASIS untuk pemenuhan tugas mata kuliah Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita.
Tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada :
1.      Tri Puspa Kusumaningsih,S.Si.T selaku pembimbing akademik kami
2.      Orang tua kami yang telah menyetujui dan mendukung kami baik secara moral maupun material dalam  pembuatan makalah tersebut.
3.      Teman-teman sekelompok yang bekerjasama menyelesaikan makalah ini. Sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar dan baik.
Saran yang membangun sangat kami harapkan baik dari segi dukungan ataupun masukan-masukan guna meningkatkan kinerja kami dalam pembuatan makalah ini. Besar harapan kami bahwa makalah ini dapat menjadi berkat bagi semua pihak dan pembaca.

Purworejo, 3 Oktober 2011

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kulit bayi memang bisa dikatakan sangatlah sensitif, beberapa kendala yang memang dihadapi ada timbulnya miliariasis atau biang keringat di bagian kulit bayi dimana rentanya timbulnya di beberapa bagian seperti pada punggung bayi, bagian kulit leher bayi yang terkadang menimbulkan iritasi akibat dampak keringat yang kurang kita perhatikan sehingga kerap kali bayi merasakan gatal pada kulit dan tentunya dalam memilih bedak bayi ada beberapa point yang harus anda perhatikan Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan.
Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan. Keadaan makroskopis dan mikroskopis kulit mencerminkan kesehatan individu dan berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Kulit pada neonatus (bayi < 1 bulan) dan bayi (< 1 bulan) merupakan bagian yang mengalami proses pematangan yang cepat, baik struktur anatomi, bio kimia dan fisiologik setelah tahap pembentukan in utero. Pada remaja dan dewasa, kulit sudah matang (mature) kemudian mengalami kemunduran (aging process (http://www.sitiaisahonline.com).
Salah satu penyakit kulit pada bayi adalah miliaria (biang keringat). Biang keringat dapat dijumpai pada bayi cukup bulan maupun premature, pada minggu-minggu pertama pasca kelahiran. Kemungkinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit yang mengakibatkan retensi keringat. Biang keringat terjadi pada sekitar 40% bayi baru lahir. Menetap beberapa minggu dan menghilang tanpa pengobatan. Penanggulangan biang keringat cukup dengan mandi memakai sabun, mengatur agar suhu lingkungan cukup sejuk, sirkulasi (ventilasi) yang baik serta memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pemakaian bedak tabur dapat juga membantu, namun bila inflamasinya hebat, pemakaian cream hidrokortison 1% dapat mengatasinya. Di seluruh dunia, Miliaria adalah yang paling umum terjadi di lingkungan tropis, terutama di kalangan orang-orang yang baru saja pindah ke lingkungan seperti dari daerah beriklim lebih tinggi dalam hal panas dan kelembapan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi Miliariasis ?
2.      Bagaimana etiologi Miliariasis ?
3.      Bagaimana patofisiologis Miliriasis ?
4.      Apa saja klasifikasi Miliriasis ?
5.      Bagaimana penatalaksanaan Miliariasis ?
C.    Tujuan
1.      Agar mahasiswa mengetahui definisi Miliariasis
2.      Agar mahasiswa mengetahui etiologi Miliriasis
3.      Agar mahasiswa mengetahui patofisiologis Miliriasis
4.      Agar mahasiswa mengetahui klasifikasi Miliariasis
5.      Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan Miliariasis
D.    Manfaat
1.      Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat memahami tentang penyakit Miliariasis dan cara penanganannya.
2.      Bagi Pembaca
Untuk menambah pengetahuan bagi pembaca tentang penyakit Miliariasis
BAB II
TINJAUAN TEORI


A.    DEFINISI
Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala. (lenteraimpian | March 5, 2010).
Miliariasis adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, di tandai adanya vesikel milier, berukuran 1-2 mm pada bagian badan yang banyak berkeringat. Pada keadaan yang lebih berat, dapat timbul papul merah atau papul putih. (Sudoyo, 2009).
Miliariasis atau biang keringat adalah kelainan kulit akibat tertutupnya saluran kelenjar keringat yang menyebabkan retensi keringat. ( Arif Mansyoer, 2001 ).
Miliariasis adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, ditandai dengan adanya vesikel milier. (Adhi Djuanda, 1987).
Miliariasis adalah dermatosis yang timbul akibat penyumbatan kelenjar keringat dan porinya, yang lazim timbul dalam udara panas lembab seperti daerah tropis atau selama awal musim panas atau akhir musim hujan yang suhunya panas dan lembab. Karena sekresinya terhambat maka menimbulkan tekanan yang menyebabkan pecahnya kelenjar atau duktus kelenjar keringat. Keringat yang masuk ke jaringan sekelilingnya menimbulkan perubahan anatomi. Sumbatan disebabkan oleh bakteri yang menimbulkan peradangan dan oleh edema akibat keringat yang tak keluar (E.Sukardi dan Petrus Andrianto, 1988)
Miliariasis adalah keadaan kulit dengan retensi keringat yang diekstravasasi pada tingkatan kulit yang berbeda, bila diagnose sendiri mengarah pada miliariasis Rubra, heat rash, prickly heat, keadaan yang terjadi akibat obstruksi saluran keringat. Keringat masuk ke epidermis menyebabkan papulovesikel merah yang gatal. ( Poppy Kumala, 1998)
      Milliariasis disebut juga sudamina, biang keringat, keringat buntet, liken tropikus, atau pickle heat .

B.     ETIOLOGI
Penyebab terjadinya miliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab. (Vivian, 2010)
Sering terjadi pada cuaca yang panas dan kelembaban yang tinggi. Akibat tertutupnya saluran kelenjar keringat terjadilah tekanan yang menyebabkan pembengkakan saluran atau kelenjar itu sendiri, keringat yang menembus ke jaringan sekitarnya menimbulkan perubahan-perubahan anatomis pada kulit berupa papul atau vesikel. (Hassan, 1984)
Faktor factor penyebab milariasis :
·         Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang
·         Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat
·         Aktivitas yang berlebihan
·         Setelah menderita demam atau panas
·         Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum  (Lenteraimpian, 2010)



C.    PATOFISIOLOGIS
      Patofisiologi terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum. (Vivian, 2010)
      Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya. (Vivian, 2010)

D.    KLASIFIKASI
Miliaria kristalina
·         Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit kemerahan.
·         Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian
·         Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus
·         Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal
·         Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat.
Miliaria rubra
·         Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas
·         Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih
·         Staphylococcus juga diduga memiliki peranan
·         Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis
·         Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2%
Miliaria profunda
·         Timbul setelah miliaria rubra
·         Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm
·         Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas
·         Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula daripada vesikel
·         Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui
·         Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang
·         Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alcohol.
Berdasarkan letak sumbatan, miliaria diklasifikasikan menjadi : (Arif Mansyoer, 2001
1.      Miliaria Kristalina
Pada miliaria kristalina, sumbatan terjadi pada intra subkorneal. Terlihat vesikel berukuran 1-2 mm terutama pada badan setelah banyak berkeringat, misalnya karena hawa panas yang bergerombol tanpa tanda radang pada bagian yang tertutup pakaian. Umumnya tidak memberi keluhan dan sembuh dengan sisik yang halus.
2.      Miliaria Rubra
Pada miliaria rubra, sumbatan terjadi pada stratum spinosum. Terlihat papul merah atau papul vesicular ekstrafolikular yang gatal dan pedih pada badan tempat tekanan atau gesekan pakaian. Jenis ini terdapat pada orang yang tidak biasa pada daerah tropic.
3.      Miliaria Profunda
Miliaria profunda terjadi bila sumbatan terdapat pada dermis bagian atas, biasanya timbul setelah miliaria rubra, ditandai papul putih, keras berukuran 1-3 mm terutama di badan dan ekstremitas.

E.     PENATALAKSANAAN
Pencegahan :
1)      Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
2)      Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
3)      Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
4)      Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat (FKUI, 2002).
Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:
1)      Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari.
2)      Setelah selesai mandi pastikan semua lipatan kulit bayi seperti ketiak, leher, paha dan lutut harus benar-benar kering kemudian oleskan bedak keseluruhan tubuh dengan tipis.
3)      Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
4)      Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
5)      Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
6)      Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
7)      Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan (Pasaribu, 2007).
Pengobatan
Ø  Perawatan kulit secara benar
Ø  Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok setelah mandi
Ø  Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah sumbatan kelenjar
Ø  Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotic
Ø  Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk) (lenteraimpian | March 5, 2010)
Seluruh bentuk miliaria berespon baik terhadap pendinginan penderita dengan pengaturan suhu lingkungan, melepas pakaian yang berlebihan, dan pada penderita demam pemberian anti piretik. Pengobatan yang paling efektif adalah dengan memperhatikan kebersihan lingkungan untuk mengatasi sebab ini
Penting untuk menghindari panas yang berlebihan, mengusahakan ventilasi yang baik dan menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat. Untuk miliaria kristalina tidak diperlukan pengobatan. Untuk miliaria rubra dapat diberikan bedak salisil 2 % dbubuhi menthol ¼ - 2 %.
Losio Febri dapat pula digunakan komposisi sebagai berikut :
R/  Acidi salicylici           500 mg
      Talci                            5     mg
      Oxydi zincici               5     mg
      Amyli oryzae               5     mg
      Alkohol (90; vo1%)    25   mg
                              cc   100
Sebagai antipruritus dapat ditambahkan menthol ½ - 1% atau kamper 1-2% dalam losio feberi. Untuk miliaria dapat digunakan losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25%, dapat pula resorsin 3% dalam alkohol. (Arif Mansyur, 2001)




BAB III
Kewenangan Bidan menurut KepMenKes No. 900

WEWENANG BIDAN
1. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetri dan neonatal kepada setiap ibu hamil/bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0-28 hari), agar penanganan dini atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat dan tepat waktu.
2. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan, bidan harus:
a. melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi
b. memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukannya
c. mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku diwilayahnya
d. bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi atau janin.
3. Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada masa pranikah termasuk remaja puteri, prahamil, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui dan masa antara kehamilan (periode interval).
4. Pelayanan kepada wanita dalam masa pranikah meliputi konseling untuk remaja puteri, konseling persiapan pranikah dan pemeriksaan fisik yang dilakukan menjelang pernikahan. Tujuan dari pemberian pelayanan ini adalah untuk mempersiapkan wanita usia subur dan pasangannya yang akan menikah agar mengetahui kesehatan reproduksi, sehingga dapat berprilaku reproduksi sehat secara mandiri dalam kehidupan rumah tangganya kelak.
5. Pelayanan kebidanan dalam masa kehamilan, masa persalinan dan masa nifas meliputi pelayanan yang berkaitan dengan kewenangan yang diberikan. Perhatian khusus diberikan pada masa sekitar persalinan, karena kebanyakan kematian ibu dan bayi terjadi dalam masa tersebut.
6. Pelayanan kesehatan kepada anak diberikan pada masa bayi (khususnya bayi baru lahir), balita dan anak pra sekolah.
7. Dalam melaksanakan pertolongan persalinan, bidan dapat memberika uterotonika.
8. Pelayanan dan pengobatan kelainan ginekologik yang dapat dilakukan olehbidan adalah kelainan ginekologik ringan, seperti keputihan dan penundaanhaid. Pengobatan ginekologik yang diberikan tersebut pada dasarnya bersifat pertolongan sementara sebelum dirujuk ke dokter, atau tindak lanjut pengobatan sesuai advis dokter.
9. Pelayanan kesehatan kepada anak meliputi :
a. Pelayanan neonatal esensial dan tata laksana neonatal sakit diluar rumah sakit yang meliputi :
1) Pertolongan persalinan yang atraumatik, bersih dan aman;
2) Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak dini;
3) Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi bernafas spontan;
4) Pemberian ASI dini dalam 30 menit setelah melahirkan;
5) Mencegah infeksi pada bayi baru lahir antara lain melalui perawatan tali pusat secara higienis, pemberian imunisasi dan pemberian ASI eksklusif.
b. Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dilaksanakan pada bayi 0-28 hari;
c. Penyuluhan kepada ibu tentang pemberian ASI eksklusif untuk bayi dibawah 6 bulan dan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi diatas 6 bulan.
d. Pemantauan tumbuh kembang balita untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang balita;
e. Pemberian obat yang bersifat sementara pada penyakit ringan, sepanjang sesuai dengan obat-obatan yang sudah ditetapkan dan segera merujuk pada dokter.
10.Beberapa tindakan yang termasuk dalam kewenangan bidan antara lain :
a. Memberikan imunisasi kepada wanita usia subur termasuk remaja puteri, calon pengantin, ibu dan bayi;
b. Memberikan suntikan kepada penyulit kehamilan meliputi pemberian secara parental antibiotika pada infeksi/sepsis, oksitosin pada kala III dan kala IV untuk pencegahan/penanganan perdarahan postpartum karena hipotonia uteri, sedativa pada preeklamsi/eklamsi, sebagai pertolongan pertama sebelum dirujuk;
c. Melakukan tindakan amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cmpada letak belakang kepala, pada distosia karena inertia uteri dan diyakini bahwa bayi dapat lahir pervaginan.
d. Kompresi bimanual internal dan/atau eksternal dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa ibu pada pendarahan postpartum untuk menghentikan pendarahan. Diperlukan keterampilan bidan dan pelaksanaan tindakan sesuai dengan protap yang berlaku.
e. Versi luar pada gemeli pada kelahiran bayi kedua. Kehamilan ganda seharusnya sejak semula direncanakan pertolongan persalinannya dirumah sakit oleh dokter. Bila hal tersebut tidak diketahui, bidan yang menolong persalinan terlebih dahulu dapat melakukan versi luar pada bayi kedua yang tidak dalam presentasi kepala, sesuai dengan protap.
f. Ekstraksi vacum pada bayi dengan kepala di dasar panggul. Demi penyelamatan hidup bayi dan ibu, bidan yang telah, mempunyai kompetensi, dapat melakukan ekstraksi vacum atau ekstraksi cunam bila janin dalam presentasi belakang kepala dan kepala janin telah berada di dasar panggul.

g. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia. Bidan diberi wewenang melakukan resusitasi pada bayi baru lahir yang mengalami asfiksia, yang sering terjadi pada partus lama, ketuban pecah dini, persalinan dengan tindakan dan pada bayi dengan berat badan lahir rendah, utamanya bayi prematur. Bayi tersebut selanjutnya perlu dirawat di fasilitas kesehatan, khususnya yang mempunyai berat lahir kurang dari 1750 gram.
h. Hipotermi pada bayi baru lahir. Bidan diberi wewenang untuk melaksanakan penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dengan mengeringkan, menghangatkan, kontak dini dan metode kangguru.
11.Bidan dalam memeberikan pelayanan keluarga berencana harus memperhatikan kompetensi dan protap yang berlaku diwilayahnya meliputi:
a. Memberikan pelayanan keluarga berencana yakni: pemasangan IUD, alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK), pemberian suntikan, tablet, kondom, diafragma, Jelly dan melaksanakan konseling.
b. Memberikan pelayanan efek samping pemakaian kontrasepsi. Pertolongan yang diberikan oleh bidan bersifat pertolongan pertama yang perlu mendapatkan pengobatan oleh dokter bila gangguan berlanjut.
c. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) tanpa penyulit. Tindakan ini dilakukan atas dasar kompetensi dan pelaksanaannya berdasarkan Protap. Pencabutan AKBK tidak dianjurkan untuk dilaksanakan melalui pelayanan KB keliling.
d. Dalam keadaan darurat, untuk penyelamatan jiwa, bidan berwenang melakukan pelayanan kebidanan selain kewenangan yang diberikan bila tidak mungkin memperoleh pertolongan dari tenaga ahli. Dalam memberikan pertolongan, bidan harus mengikuti protap yang berlaku.
12.Bidan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.
13.Beberapa kewajiban bidan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kewenangan :
a. Meminta persetujuan yang akan dilakukan. Pasien berhak mengetahui dan mendapat penjelasan mengenai semua tindakan yang dilakukan kepadanya. Persetujuan dari pasien dan orang terdekat dalam keluarga perlu dimintakan sebelum tindakan dilakukan.
b. Memberikan informasi. Informasi mengenai pelayanan/tindakan yang diberikan dan efek samping yang ditimbulkan perlu diberikan secara jelas, sehingga memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.
c. Melakukan rekam medis dengan baik. Setiap pelayanan yang diberikan oleh bidan perlu didokumentasikan/ dicatat, seperti hasil pemeriksaan dan tindakan yang diberikan dengan menggunakan format yang berlaku.
14.Penyediaan dan penyerahan obat-obatan :
a. Bidan harus menyediakan obat-obatan maupun obat suntik sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan.
b. Bidan diperkenankan menyerahkan obat kepada pasien sepanjang untuk keperluan darurat dan sesuai dengan protap.
15.Pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk surat keterangan kelahiran hanya dapat dibuat oleh bidan yang memberikan pertolongan persalinan tersebut dengan menyebutkan :
1) identitas bidan penolong persalinan;
2) identitas suami dan ibu yang melahirkan;
3) jenis kelamin, berat badan dan panjang badan anak yang dilahirkan;
4) waktu kelahiran (tempat, tanggal dan jam).

b. Untuk Surat keterangan kematian hanya dapat diberikan terhadap ibu dan atau bayi yang meninggal pada waktu pertolongan persalinan dilakukan dengan menyebutkan:
1) identitas bidan;
2) identitas ibu/bayi yang meninggal;
3) identitas suami dari ibu yang meninggal;
4) identitas ayah dan ibu dari bayi yang meninggal;
5) jenis kelamin;
6) waktu kematian (tempat, tanggal dan jam);
7) umur;
8) dugaan penyebab kematian.
c. Setiap pemberian surat keterangan kelahiran atau surat keterangan kematian harus dilakukan pencatatan.










BAB IV
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY.D Umur 21 Hari
Dengan MILIARIASIS

Tempat Praktik            : RB Dahlia                             Nama Mahasiswa        : Rini Susanti
Tanggal Masuk            : 1 Oktober 2011                     Ketrampilan                : Neonatus
Hari/tanggal                : Senin, 1 Oktober 2011          Jam                              : 15.10
I.DATA SUBYEKTIF
1. Identitas/ Biodata
Nomor RM          : 02234
Nama Bayi           : Anak dari Ny.D
Jenis Kelamin      :Perempuan
Nama Ibu             : Ny.D                                     Nama Suami    : Tn. S
Umur                   : 23 Tahun                               Umur               : 26 Tahun
Pendidikan          : SMK                                     Pendidikan      : D III
Pekerjaan             : IRT                                        Pekerjaan         : PNS
Suku/ Bangsa       : Jawa/ Indonesia                    Suku/ Bangsa  : Jawa/ Indonesia
Agama                 : Islam                                     Agama             : Islam
Alamat                 : Jl. Senopati No.64
2.      Alasan Datang   : Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaan bayinya
3.      Keluhan Utama : Ibu mengatakan 2 hari terakhir bayi susah tidur, pada kulit muka dan sekitar leher bayi terdapat bintik-bintik kemerahan.
4.      Riwayat Penyakit Kehamilan :
a.       Dahulu         : Ibu tidak pernah menderita penyakit jantung, asma, DM, Hipertensi
b.      Sekarang      : Ibu tidak sedang menderita penyakit jantung, asma, DM, Hipertensi
c.       Keluarga       : Keluarga ibu tidak ada yang menderita penyakit jantung, asma, DM, Hipertensi
5.      Riwayat Persalinan :
a.       Tanggal/jam persalinan         : 10 September 2011, Jam 19.00 WIB
b.      Jenis Persalinan                    : Spontan
c.       Lama Persalinan                   : Kala I, 10 jam
  Kala II, 2 jam
  Kala III, 20 menit
  Kala IV, 2 jam
d.      Penolong Persalinan             : Bidan Sri
e.       Penyulit Persalinan               : Tidak ada penyulit dalam proses persalinan
f.       Antropometri                       : BB : 3100 gr             PB : 55 cm
  LK : 35 cm                LD : 33 cm
  LILA : 12 cm




II. DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan Umum
a.       Keadaan Umum    : Bayi rewel
b.      Tanda Vital           : N : 135 x/ menit        S : 36,8 °C
  Rr : 45 x/ menit
c.       Apgar Score          :
Apgar
1’
5’
10’
Deyut Jantung
Pernafasan
Tonus Otot
Reflek
Warna Kulit
2
2

2

1

1
2
2

2

2

1
2
2

2

2

2

8
9
10
d.      Reflek       :
1.      Morrow           : (+) Kuat
2.      Rooting           : (+) Kuat
3.      Sucking           : (+) Kuat
4.      Swallowing     : (+) Kuat
5.      Grapsing          : (+) Kuat
6.      Babinsky         : (+) Kuat
7.      Tonick Neck    : (+) Kuat

2.      Pemeriksaan fisik khusus
a.       Kepala       : bentuk mesocepal, rambut hitam, tipis, fontanel anterior lunak, sutura sagitalis belum menyatu
b.      Muka         :  tampak kemerahan, terdapat bintik atau gelembung kecil di dahi, kulit kemerahan
c.       Ubun ubun                        : lunak
d.      Mata                      : bentuk simetris, reflek pupil (+), sklera putih
e.       Telinga                  : bersih, tulang rawan pada daun telinga telah berbentuk
f.       Mulut                    : bersih, tidak ada kandidiasis
g.      Hidung                  : bersih, berlubang, tidak ada pembesaran kelenjar polip
h.      Leher                     : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, terdapat bintik bintik / gelembung kecil, kulit kemerahan
i.        Dada                     : simetris, pernafasan dada teratur, tidak ada retraksi dinding dada
j.        Tali pusat               : bersih, belum kering,tidak terdapat pendarahan tali pusat, tidak ada pus
k.      Punggung              : bentuk sempurna, tidak terjadi kelainan bentuk punggung
l.        Genetalia               : bersih, tidak ada kelainan tetis
m.    Anus                      : bersih dan berlubang
n.      Ekstremitas           :
·         Atas                 : jumlah dan bentuk sempurna lengkap, gerakan aktif, tidak sianosis
·         Bawah             : jumlah dan bentuk sempurna, gerakan aktif, tidak sianosis
3.      Eliminasi
a. Miksi                       : bayi sudah BAK 4x
d. Defekasi                  : bayi sudah BAB 2x B,mekonium sudah
III. ASSESMENT
1.      Diagnosa Kebidanan :
Bayi NY.A umur 21 hari dengan miliariasis
Data dasar                   :
DS :
·         Ibu mengatakan telah melahirkan bayi pada tanggal 10 September 2011, jam 19.00 WIB
·         Ibu mengatakan bayi rewel
·         Ibu mengatakan kulit muka bayi dan sekitar leher timbul bintik atau gelembung kecil, kulit kemerahan
·         Bayi susah tidur di malam hari
DO :
·         Bayi lahir tanggal 10 September 2011
·         BB : 3100 gr, PB : 55 cm, LK 37cm, LD 33cm, LILA 12 cm
·         TTV = N : 135 x /menit, S : 36, 8 °C, R : 45 x/menit
·         Bayi rewel
·         Kulit muka dan sekitar leher terdapat bintik bintik kemerahan
2.      Masalah           : Miliariasis (biang keringat)
Data dasar       : kulit muka dan sekitar leher terdapat bintik atau gelembung kecil, kulit kemerahan.


IV. PLANNING, 1 Oktober 2011 jam 15.40
1.      Observasi KU dan VS
2.      Pemberian informasi kepada ibu tentang perawatan  kulit pada bayi
3.      Pengawasan Klinik
4.      Pemberian bedak untuk kulit
V. IMPLEMENTASI, 1 Oktober 2011 jam 15.50
1. Mengobservasi KU dan VS bayi
2. Memberikan informasi kepada ibu tentang perawatan kulit bayi
3. Melakukan pengawasan klinik :
Ø  Menjaga suhu ruangan bayi agar tidak terlalu panas
Ø  Memelihara kebersihan dan kenyamanan lingkungan bayi
Ø  Menganjurkan ibu untuk memilih pakaian yang mudah menyerap keringat bayi
5.   Memberikan bedak kulit salicyl 2 % untuk mengurangi bintik bintik kemerahan pada kulit bayi
VI. EVALUASI, 1 Oktober 2011 jam 16.30
1.      Keadaan umum bayi baik dan vital sign N : 135x/menit, S : 36,8°C, Rr : 45 x/menit
2.      Ibu sudah mengetahui bagaimana cara perawatan kulit bayi dengan benar, yaitu :
o   Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari.
o   Selesai mandi pastikan semua lipatan kulit bayi seperti ketiak, leher, paha dan lutut harus benar-benar kering kemudian oleskan bedak keseluruhan tubuh dengan tipis.
o   Menjaga tubuh bayi agar tetap kering.
o   Jika bayi berkeringat, jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Tapi sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
o   Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan.
3.      Hasil pengawasan klinik
o   Dengan suhu yang stabil membuat bayi merasa nyaman dan tidak banyak mengeluarkan keringat.
o   Kebersihan dan kenyamanan lingkungan bayi juga dapat mencegah bakteri menempel pada kulit bayi.
o   Penggunaan pakaian yang terbuat dari katun yang menyerap keringat bisa mencegah terjadinya miliariasis.
4.      Dengan pemberian bedak salicyl 2% kepada bayi dapat mengurangi bintik bintik kemerahan pada kulit bayi.






BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Miliariasis merupakan kelainan kulit akibat tertutupnya kelenjar keringat yang menyebabkan retensi keringat, pada bagian badan yang berkeringat. Macam macam miliarisis atau yang sering disebut dengan biang keringat  adalah miliarisis kristalina, miliarisis rubra, da miliarisis profunda. Miliaria kristalina merupakan miliaria paling ringan, dan umumnya tidak member keluhan. Sedangkan kelainan yang paling berat yaitu miliaria profunda. Prinsip penatalaksanaan terpenting yaitu menghindari panas yang berlebihan.

B.     Saran
Untuk menghindari miliariasis, antara lain dengan perawatan kulit secara benar pada bayi sehingga tidak menimbulkan miliariasis atau biang keringat. Mengusahakan agar ruangan bayi tetap selalu nyaman, dan tidak terlalu panas.


DAFTAR PUSTAKA


http://www.sitiaisahonline.com
Mansyoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius FKUI, 2001.
Sudoyo, Aru W. Ilmu Penyakit dalam Jilid 1. Jakarta: Interna Publising, 2009.
Kumala, Poppy. Kamus Saku Kedokteran Dorland, 25/E. Jakarta: EGC, 1998


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar